Keesokan paginya, Lynx dan Jelita duduk dengan santai di Paviliun Bulan Perak, menikmati hidangan yang tersedia. Paviliun ini memang menyediakan fasilitas sarapan khusus untuk para tamu, dan saat itu, Jelita tampak benar-benar menikmati makanan yang diberikan. Hingga saat itu, dia masih terkesima dengan rasa masakan yang ada di dunia kultivasi. Sementara Lynx, belum menceritakan kejadian malam sebelumnya ke Jelita.

"Xiao Ling, setelah ini, apa rencana kita? Apakah kamu sudah punya ide untuk menemukan gadis yang mirip dengan Leena?" tanya Jelita, matanya bersinar penuh rasa penasaran.

"Aku sedang memikirkannya. Kita perlu membentuk sebuah kelompok yang bisa membantu kita, tidak hanya untuk menemukan Leena, tapi juga untuk mencari seluruh suku Surya. Aku punya firasat buruk, ribuan orang tiba-tiba muncul di dunia ini, seharusnya itu jadi berita besar, tapi aku tak mendengar sepatah kata pun tentang mereka." Lynx menjawab dengan nada yang agak cemas.

Mendengar itu, wajah Jelita berubah. Cemas. "Aku... tidak terpikirkan hal itu. Kalau benar begitu, kita harus segera mencari mereka," ujarnya, sambil berhenti makan dan menatap Lynx dengan serius.

Lynx yang melihat Jelita berhenti makan merasa bersalah. "Seharusnya aku tidak mengatakan itu di depan Jelita. Aku membuatnya khawatir. Lain kali, aku harus lebih berhati-hati," batinnya, merasa sedikit menyesal.

"Kamu tidak perlu khawatir. Aku berjanji akan segera menemukan mereka," kata Lynx, berusaha menenangkan Jelita, meski dirinya juga merasakan kecemasan yang sama.

"Terima kasih, Xiao Ling." Jelita menundukkan kepalanya, menggigit bibir bawahnya. Rasa khawatir terhadap keluarganya tak bisa dia hindari. Perlahan, selera makannya hilang, seiring beratnya perasaan yang membebani hatinya.

Tiba-tiba, percakapan dari meja sebelah menarik perhatian Lynx. "Apakah kalian tahu, rombongan keluarga Guo sudah datang membawa batu-batuan roh dari Gunung Fengming?"

Jelita yang duduk tidak jauh dari Lynx mendengar percakapan tersebut dan merasa tertarik. "Xiao Ling, apa itu Batu Roh?" tanyanya penasaran.

Lynx, yang memiliki ingatan leluhur Xiao Tang, tersenyum dan mulai menjelaskan kepada Jelita. "Batu Roh adalah mineral langka yang terbentuk di gunung berapi aktif jutaan tahun lalu. Gunung-gunung ini memiliki sumber energi spiritual alami yang sangat kuat. Magma di dalamnya mengandung mineral-mineral yang menyerap dan menyimpan energi spiritual dari lingkungan sekitarnya."

"Seiring waktu, tekanan panas dan energi spiritual di dalam bumi mengubah mineral ini menjadi Batu Roh, yang di dalamnya terkandung Kristal Roh," lanjut Lynx, sambil memastikan Jelita memahami.

"Gunung berapi seperti ini dulunya menjadi pusat kultivasi. Banyak sekte mendirikan tempat pelatihan di sekitarnya karena kekayaan energi spiritualnya. Namun, ribuan tahun yang lalu, gunung-gunung ini meletus. Energi spiritual dalam tanah tersegel di dalam batu-batu mineral dan tidak lagi mengalir bebas ke lingkungan sekitar," jelas Lynx dengan sabar.

"Jadi, kota-kota di sekitar gunung itu sekarang memiliki energi spiritual yang rendah, tetapi batu-batu yang terkubur di dalam gunung tetap menyimpan kekuatan itu," tambah Lynx sambil melihat Jelita yang menyimak dengan antusias.

"Karena terbentuk secara alami, batu ini memiliki lapisan yang menghambat deteksi energi spiritual. Sehingga para kultivator tidak bisa membedakan mana batu biasa dengan yang mengandung Batu Roh, kecuali dengan cara tertentu," ujar Lynx, mengakhiri penjelasannya.

Jelita mengangguk, terkesan dengan informasi yang baru saja dia terima. "Menarik sekali. Lalu apa gunanya Batu Roh ini?" Tanyanya, merenungkan potensi energi yang terkandung di dalamnya.

Lynx melanjutkan kembali penjelasannya kepada Jelita mengenai jenis-jenis Kristal Roh yang dapat ditemukan dalam Batu Roh. Ia menjelaskan dengan detail, memastikan bahwa Jelita memahami perbedaan dan kegunaannya.

"Agar paham, ada beberapa jenis batu kristal, Pertama," kata Lynx, "ada Kristal Roh Umum. Kristal ini mengandung energi spiritual yang rendah dan biasanya digunakan untuk membuat pil dasar atau artefak tingkat rendah. Mereka cukup umum dan menjadi bahan dasar yang penting bagi para praktisi pemula."

"Kedua," lanjutnya, "ada Kristal Roh Langka. Kristal ini mengandung energi yang lebih murni, sehingga dapat digunakan untuk alkimia tingkat tinggi atau senjata khusus. Energi murninya membuatnya sangat dicari untuk proyek yang membutuhkan kekuatan lebih besar."

Lynx kemudian menjelaskan lebih jauh, "Ketiga, ada Kristal Roh Mutlak. Ini sangat jarang ditemukan, tetapi memiliki kualitas energi yang luar biasa tinggi. Mereka biasanya hanya muncul di batu yang terbentuk dari tekanan paling dalam di gunung, dan karenanya, hanya sedikit orang yang bisa menemukannya, apalagi menggunakannya."

Ia melanjutkan dengan teori yang masih diperdebatkan, "Keempat, beberapa ahli percaya ada Kristal Roh Eksotis. Kristal ini diduga memiliki efek unik, seperti Kristal Api, Kristal Petir, atau Kristal Es. Namun, Kristal semacam ini sangat sulit ditemukan dan hanya muncul di batu-batu yang paling tua dan paling keras. Meskipun belum terbukti secara ilmiah, legenda tentang Kristal Eksotis ini terus menarik perhatian para pencari dan peneliti."

Jelita mendengarkan dengan penuh perhatian, terkesima oleh keragaman dan potensi yang ditawarkan oleh Kristal Roh. "Jadi, setiap jenis Kristal Roh memiliki karakteristik dan kegunaan yang berbeda, ya?" tanyanya untuk memastikan.

"Benar sekali," jawab Lynx dengan senyum. "Dan itulah yang membuat Batu Roh begitu berharga dan dicari oleh banyak kultivator dan alkemis, karena dapat digunakan untuk meningkatkan kekuatan dengan menyerap langsung atau memanfaatkan untuk berbagai keperluan."

Jelita, yang sangat tertarik dengan penjelasan tersebut, bertanya, "Kalau begitu, mengapa para kultivator tidak menggunakan kekuatan mereka untuk mencari dan membukanya sendiri jika manfaatnya sebesar itu?"

Lynx tersenyum dan menjawab, "Tidak bisa sembarangan membukanya, Jelita. Menggunakan kekuatan terlalu besar bisa menghancurkan kristal yang ada di dalam Batu Roh. Energi spiritual dalam batu sangat sensitif, sehingga harus ditangani dengan hati-hati. "

"Untuk mengupas Batu Roh, diperlukan alat dan teknik khusus agar bisa mendapatkan kristal roh tanpa merusaknya," jelas Lynx. "Pertama, ada Pisau Batu Surgawi. Pisau ini dibuat dari logam langka yang bisa memotong lapisan luar Batu Roh tanpa menghancurkan isinya. Para ahli batu menggunakan pisau ini untuk memotong bagian luar batu secara perlahan, seperti seorang pengrajin mengukir permata. Teknik ini paling umum digunakan dalam judi batu karena memungkinkan pemotongan presisi tanpa merusak kristal."

Ia melanjutkan penjelasan, "Selain Pisau Batu Surgawi, ada juga Cairan Pelemah Batu, yang merupakan zat alami ditemukan di mata air bawah tanah gunung-gunung tersebut. Cairan ini dapat melemahkan struktur batu tanpa merusak kristal di dalamnya. Batu direndam dalam cairan ini selama beberapa jam hingga beberapa hari, sehingga lapisan luarnya menjadi lebih lunak dan bisa dikikis dengan tangan. Teknik ini sering digunakan oleh keluarga kaya karena biaya tinggi dan prosesnya lama."

"Ketiga," lanjut Lynx, "adalah Palu & Pahat Spiritualitas Rendah. Karena batu ini menyerap energi spiritual, alat yang terlalu kuat bisa membuat energi dalam batu tidak stabil dan menghancurkan kristal di dalamnya. Para pengrajin batu menggunakan palu khusus dengan tenaga rendah, yang memecah batu sedikit demi sedikit tanpa merusak isi di dalamnya. Metode ini lebih lambat, tetapi lebih aman dibandingkan serangan kasar."

Terakhir, Lynx menjelaskan teknik paling canggih, "Ada Teknik Pemotongan dengan Formasi Energi. Beberapa sekte dan keluarga kaya menggunakan formasi energi khusus untuk melemahkan lapisan luar batu sebelum memotongnya dengan pisau batu surgawi. Ini metode paling mahal, tetapi juga paling efektif untuk mendapatkan kristal tanpa kerusakan."

Jelita mengangguk memahami, terkesima dengan berbagai teknik yang digunakan untuk mengekstrak Kristal Roh dari Batu Roh. "Jadi, prosesnya tidak hanya bergantung pada alat, tetapi juga teknik dan kesabaran, ya?" tanyanya.

"Benar sekali," ujar Lynx. "Setiap langkah dalam proses ini membutuhkan keahlian dan perhatian terhadap detail untuk memastikan Kristal Roh dapat diambil dengan selamat dan utuh."

Setelah paham dengan penjelasan Lynx, Jelita mencoba menyimak kembali percakapan orang-orang yang membahas tentang batu tersebut.

"Kapan judi batu diadakan?" Tanya salah seorang tamu di meja makan.

"Keluarga Huo akan memulainya siang ini, kita harus kesana melihatnya dan menguji keberuntungan kita." Jawab tamu lainnya dengan bersemangat.

